DUNIA
DI BALIK SELIMUT
Cahaya
matahari pagi menyusup melalui celah-celah jendela kayu yang mulai usang,
merayap pelan di atas lantai semen sebelum akhirnya menyentuh wajah seorang
gadis remaja bernama Alifa. Suasana pagi ini begitu cerah dan indah, seharusnya bisa
memberikan energi positif seperti semangat untuk beraktivitas. Tapi sayangnya
tidak untuk Alifa, ia terbangun dari tidurnya dengan wajah murung dan lesu
karena teringat jika ia harus bersekolah dan menjadi korban bully lagi
seperti biasanya ditambah orang tuanya malam tadi telah bertengkar hebat.
Ia membuka mata dengan kelopak yang terasa berat. Wajahnya murung,
lesu, dan ada sisa sembab di sudut matanya. Ingatannya langsung terlempar pada
kejadian semalam—sebuah simfoni keributan yang sudah menjadi
"makanan" rutin di rumahnya. Suara pecahan kaca dan teriakan ayah
serta ibunya masih terngiang sangat jelas, seolah dinding kamar itu merekam
setiap cacian yang terlontar.
"KAMU DIAM AJA! UANG YANG AKU HABISKAN ITU
UANGKU!" suara
ayahnya yang berat dan penuh amarah menggelegar.
"YA MEMANG UANG YANG KAMU CARI, TAPI ITU
UNTUK KEBUTUHAN SEHARI-HARI! MANA NAFKAHMU SEBAGAI KEPALA KELUARGA?!!" balas ibunya dengan suara bergetar karena
tangis.
"HALAHH.... ALASAN KAMU AJA UNTUK
KEBUTUHAN! UANG YANG SELAMA INI AKU KASIH KEMANA? KAMU HABISKAN SENDIRI,
KAN?!!"
Seluruh perdebatan itu terekam jelas dan terus berputar dikepala
Alifa. Ingin rasanya tertidur pulas hingga tidak pernah terbangun lagi namun
Allah berkata lain, Allah masih saja membiarkan seorang Alifa hidup melewati
lika liku dunia.
"Akhh.... Allah gak adil sekali sama ku, katanya Allah Maha Adil... Dimana letak adilnya." Umpatnya lalu berjalan meninggalkan tempat tidur untuk bersiap ke sekolah.
Dengan langkah santai, ia meninggalkan tempat tidur. Alifa sudah
hafal ritme rumahnya; setelah pertengkaran hebat, dapur akan menjadi tempat
paling sunyi. Tidak akan ada aroma nasi goreng atau sekadar teh hangat untuk
sarapan. Ibunya pasti masih terpuruk dalam kesedihan, dan ayahnya entah di
mana. Alifa memutuskan untuk langsung berangkat sekolah tanpa melirik ke arah
dapur sedikit pun. Ia tidak ingin hatinya kecewa karena berharap pada sesuatu
yang tidak ada.
Ia terus berjalan melewati perempatan jalan sebelum akhirnya tiba
di sekolah, beruntung rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah. Di perempatan jalan, ia
melihat beberapa teman sekolahnya naik ojek atau angkutan umum dengan tawa
riang. Alifa hanya bisa menunduk. Jangankan untuk naik angkutan umum, dirinya hanya memegang selembar
uang dua ribuan, uang sisa kemarin yang memang sengaja ia sisihkan untuk
jaga-jaga. Perekonomian keluarganya cukup sulit ditambah ayahnya yang kecanduan
berjudi dan mabuk-mabukan.
Sesampainya di gerbang sekolah, Alifa terhenti. Ia
memandangi bangunan sekolah itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak membenci
pendidikan; ia punya impian menjadi orang sukses agar bisa membawa ibunya
keluar dari neraka ini. Namun, bangunan itu juga merupakan tempat penyiksaan
lain baginya. Ia adalah siswi yang dianggap lemah, target empuk bagi mereka
yang merasa memiliki segalanya.
Benar saja, begitu ia melangkah masuk ke kelas, teman-temannya sudah lebih dulu tiba. . Meja dan bangkunya sudah
"dihias" sedemikian rupa oleh rutinitas keji teman-temannya. Coretan spidol berisi makian, tumpukan sampah
plastik, bekas
permen karet yang lengket di sandaran kursi, terkadang bangkunya juga di jatuhkan di ujung
kelas, hingga
bau menyengat dari telur busuk yang sengaja dipecahkan di kolong mejanya.
"Nahh...
kayak gini kan bagus. Cocok meja penuh sampah dengan muka kayak sampah si beban
Alifa," ujar Ira
dengan tawa meremehkan, berdiri berkacak pinggang di depan gengnya.
"Eh
ehh... Biar lo tau ya Ra, ortunya si Alifa berantem lagi tadi mlm. Mereka
berantem hebat terus gue juga denger suara pecahan kaca," lapor Dara sekaligus tetangga Alifa
"Wah..
Wahh... Info bagus Dara! Kita
tunggu aja orangnya masuk kelas, pasti makin seru," sahut Ira puas.
"Oke oke."
Nasib malang setelah mereka berdua selesai berbicara bertepatan
dengan Alifa yang masuk kelas menuju mejanya.
"Duh duhh... Meja siapa sih ini yang bau
banget, ngurusin meja belajar aja gak bisa, apalgi diri sendiri... Pantesan bau
banget," hina
Ira tanpa ampun.
"Gila sih sampah sebanyak ini, merusak
pagi gue yang indah aja. Oiya Ra, lo tau gak sih tadi malam ortunya dia
berantem lagi loh."
"Ihh... Ya ampun, emang apa penyebabnya?," tanya Ira
dengan nada kepo.
"Kayaknya ayah si Alifa mabuk berat lagi
dan kalah judi, soalnya aku dengar jelas kalau ayahnya marah-marah bahas uang," Dara menimpali sambil mendekat.
"Miris banget ya dia, udah hidup susah
malah punya ayah pemabuk, kuat main judi lagi tuh.. Untung ibunya masih oke," kata Ira berpura-pura simpati namun diakhiri
dengan seringai.
"Tapi kayaknya sebentar lagi ibunya bakal
gila sih, liat aja... Ngadepin suami kayak gitu dengan kehidupan yang MISKIN ditambah
punya anak yang gak guna. Fiks bentar lagi pasti jadi orang gila sih ibunya
HAHAHAHA," ledek
Dara puas.
Alifa yang mendengar semua itu hanya tertunduk diam menahan air
matanya agar tidak jatuh sambil terus membersihkan sampah-sampah yang ada
diatas mejanya. Ia kesal, marah, tpi ia juga tidak punya keberanian untuk
membela diri karena ia tau pembullyan itu akan semakin parah jika dia
membela diri. Sepanjang jam pelajaran, Alifa hanya bisa menahan tangis. Hari
itu terasa sangat panjang, bagai dipaksa menelan pare mentah yang sangat pahit
sementara ia sudah sangat lapar akan ketenangan.
Sepulang sekolah, Alifa tiba di rumahnya dengan air mata yang
belum kering membasahi pipi. Jelas saja, ia menangis sepanjang jalan karena
lelah menghadapi kehidupan.
"Ass......."
Salamnya terputus. Di ruang tamu yang berantakan, ia melihat ibunya
terduduk di lantai, memeluk lutut sambil menangis tersedu-sedu. Hati Alifa
hancur. Ia berlari, menjatuhkan tasnya, dan langsung memeluk tubuh ibunya yang
rapuh.
"MAKSUD AYAH APA SAMPAI IBU NANGIS BEGINI
HAA?!" teriak
Alifa, emosi yang ia bendam sejak pagi meledak begitu melihat ayahnya berdiri
di ambang pintu kamar dengan wajah bengis.
"HEHH.... ANAK SIALAN!, aku sama ibumu
sudah bercerai talak tiga jadi pergi dari rumahku ini, bawa ibumu yang gak
berguna itu, PERGI!"
PRANGG! Sebuah gelas dilemparkan sang ayah,
pecah tepat di samping kaki Alifa.
"TIDAAKKK!"
Alifa tersentak hebat. Ia terbangun dengan napas tersengal-sengal.
Jantungnya berdegup kencang seolah habis berlari maraton. Keringat dingin
membasahi seluruh tubuhnya, dan tangannya masih gemetaran hebat. Ia memandang
sekeliling dengan bingung. Ia berada di kamarnya yang bersih dan nyaman.
Tak lama, pintu terbuka pelan. Ibunya masuk dengan wajah segar dan
senyum yang sangat lembut, membawa segelas susu hangat di atas nampan. Beliau
duduk di tepi tempat tidur, mengelus rambut Alifa, lalu mencium dahinya dengan
penuh kasih sayang.
"Pagi
sayang... Kamu kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?" tanya Ibu lembut.
Alifa masih terpaku, mencoba mencerna
kenyataan. "Ma... Papa di mana?" tanyanya dengan suara serak.
"Ada di ruang tengah lagi ngopi sambil
baca berita, emang kenapa? Tumben nanyain Papa duluan," goda Ibunya sambil menyodorkan susu.
"Gak apa-apa, Ma..." Alifa menerima susu itu, namun pikirannya
melayang jauh.
Alifa menyadari sepenuhnya bahwa kehidupan menderita yang baru saja
ia lalui hanyalah sebuah mimpi buruk yang dikirimkan sebagai peringatan. Di
dunia nyata, hidupnya sangat berkecukupan dan harmonis. Namun, mimpi itu terasa
sangat nyata karena ia melihat sosok "Vany" dalam dirinya di mimpi
tersebut.
Vany adalah teman sekelasnya yang miskin, yang ayahnya memang bermasalah, dan selama ini Alifa-lah yang menjadi "Ira" bagi Vany. Alifa adalah sosok pembully handal yang selalu menghina Vany setiap hari. Rasa sakit, hinaan, dan keputusasaan yang ia rasakan dalam mimpi tadi adalah apa yang dirasakan Vany setiap hari karena perbuatannya.
Di depan teman-temannya yang mulai berbisik bingung, Alifa memegang
tangan Vany. Dengan mata berkaca-kaca, ia berbisik cukup keras agar semua orang
mendengar, "Vany... maafkan aku. Maaf atas semua perbuatanku selama
ini."
Kelas pun sunyi. Alifa menyadari bahwa dunia di balik selimut tadi
telah mengubah seluruh dunianya yang nyata.
~ Tamat ~
Semoga kita semua memiliki keberanian seperti Alifa: berani mengakui kesalahan dan berani untuk berubah menjadi lebih baik.
Lokasi: SMA Swasta Ad-Dakwah, Sei Bamban, Serdang Bedagai


Terimakasih ummi๐คญ๐ซถ
BalasHapus๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐
BalasHapus๐๐๐
BalasHapus๐๐ป๐๐ป๐๐ป
BalasHapus๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapusceritanya keren sih, plot twist nya dapet ๐๐๐
BalasHapus๐๐๐
BalasHapus๐๐๐
๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐ผ๐๐ผ๐๐ผ
BalasHapus๐๐ป๐๐ป๐๐ป
BalasHapus๐๐๐
BalasHapus๐๐๐
BalasHapusKerenn, ๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐ป๐๐ป
BalasHapus๐๐๐๐
BalasHapus๐๐
BalasHapus๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป
BalasHapus๐๐๐
BalasHapus๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป๐๐ป
BalasHapus๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapuskeren banget kak ๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapusBEH SERU KAK CERITANYA๐๐ป๐๐ป๐๐ป
BalasHapusMakasi๐คญ
HapusCeritanya bagus banget kak elma semangat kk elma
BalasHapusAww makasi๐คญ
Hapus๐๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐๐๐๐๐
BalasHapus๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ๐ฑ
BalasHapusbagus beb cerita yh ๐
BalasHapussumpah gk ketebak endingnya wkwk
BalasHapusKeren banget
BalasHapusAlur ceritanya bagus๐
BalasHapusanak SMA bisa buat karya begini keren loh. bermanfaat hasil belajarnya.
BalasHapusMenyentuh qolbu๐ฅฒ
BalasHapusSELAMAT MEMBACA KARYA MURID KAMI
BalasHapusBagus ceritanya nyambung dan menyentuh hati๐
BalasHapusMaasyaAllah. Keren.
BalasHapusIkut terbawa saat membacanya
MasyaaAllah sudah cantik, cerdas lagi๐ฅ
BalasHapusmin pls buatkan cerita yang lebih panjang,suka baca cerpen genre gini๐ฅฐ
BalasHapusMasyallah keren banget ๐๐๐๐๐
BalasHapusAlhamdulillah.... cerita ini memotivasi pembaca dan bermanfaat
BalasHapus